Selasa, 01 Desember 2015

Menghargai Seseorang Lebih Baik Daripada Dihargai Seseorang




Di luar awan terlihat gelap, dan beberapa menit lagi hujan pasti akan kembali mengguyur Ibukota Jakarta.

Di luar mendung, nampaknya hujan akan turun setetes demi setetes membasuh jalan-jalan di luaran sana.

Di luar terdengar tetesan air hujan yang sudah membasuh bumi ini.

   And, hey! Suasana saat ini senada dengan apa yang saya rasakan hari ini. Oh no! Ini bukan masalah hati. Bukan juga masalah cinta-cintaan. Ini adalah masalah sosial yang saya tengah hadapi.

   Ya... Masalah sosial yang saya sendiri pun bingung harus mengungkapkannya dengan cara apa. Masalah sosial yang menurut saya pasti pernah dialami oleh orang banyak. 


"Inginnya dihargai, tapi tidak pernah menghargai orang"




   Siapa yang pernah menghadapi orang seperti kalimat di atas? Pasti banyak, termasuk saya. Ya. Saya sering menjumpai orang-orang seperti kalimat di atas. Namun, tak pernah terbesit di dalam pikiran saya bahwa "Kenapa sih saya harus berjumpa dengan orang yang seperti itu?" No. Sama sekali tidak pernah. Yang saya pikirkan adalah, "Aduh... bertemu orang yang seperti ini lagi. Bagaimana saya harus menghadapinya?" Saya terus melontarkan pikiran-pikiran itu ke diri saya setiap kali saya bertemu dengan orang yang seperti itu.


 "Yang penting mah kita baik aja dulu sama orang, urusan dia mau baik/jahat sama kita mah itu urusan dia sama Tuhan"


    Yap! Benar sekali. Sama halnya dengan hal kebaikan, harga-menghargai seseorang pun demikian. Kalau kamu menghargai seseorang, maka hargailah sepenuhnya. Tapi jika orang yang kamu hargai tidak kembali menghargaimu, maka teruskan saja tindakan menghargaimu kepadanya. Urusan dia mau menghargai/tidaknya kepadamu itu urusan dia sama Tuhan. Toh bukannya Tuhan cinta dengan hal-hal yang baik, 'kan?

   Sebelum saya tutup tulisan kali ini, saya mau berpesan kepada semuanya bahwa, mulai sekarang sering-seringlah kamu menghargai seseorang, entah dalam hal apapun itu. Walaupun pada akhirnya kamu ingin balik dihargai tapi tidak didapatkan olehnya, setidaknya kamu sudah berbuat baik.


Tersenyumlah walau pahit.

 


Sabtu, 01 Agustus 2015

Definisi Kebahagiaan

Halo teman-teman! Sudah lama gue nggak nge-post di blog. :D Kali ini, gue mau ngebahas tentang 'Sebenarnya, Kebahagiaan Itu Apa Sih?'


Hari ini, 1 Agustus 2015, entah kenapa gue mau banget nulis sesuatu di blog. Dan kebetulan, di hari ini pula gue dibuat kesal sama orang-orang yang kalau ngomong 'suka lucu'. Kenapa gue sebut mereka dengan sebutan 'suka lucu'? Ya. Karena mereka adalah beberapa dari sekian banyak orang 'kekinian' yang gede omongannya, tapi kecil kemampuannya. Mereka hanya menilai seseorang dari satu sisi saja, padahal... mereka nggak tahu bahwa yang mereka nilai adalah mungkin nantinya akan jadi yang terbaik. Seperti lirik lagunya Tulus yang judulnya Gajah. Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik...~~~ *nyanyi* :D

Lanjut...

Sebelumnya, gue mau tanya kepada para pembaca. Menurut kalian, kalian bisa bahagia karena apa? Gue bisa tebak! Mungkin kalau yang sedang jatuh cinta pasti menjawab "Si dia yang bisa bikin gue bahagia. <3", atau yang sayang dan solid dengan teman-temannya pasti menjawab "Temen-temen gue lah yang bikin bahagia terus.", atau yang sedang patah hati pasti menjawab "Nggak ada yang bisa bikin gue bahagia, semuanya sama aja! :'(". Sebenarnya, mau dengan siapa pun kalian berbahagia, maka berbahagialah. Karena di dunia ini kebahagiaan sangat sulit didapatkan.

Menurut gue, kebahagiaan adalah salah satu alasan mengapa Tuhan menciptakan kita (manusia) untuk tinggal dan hidup di dunia ini. Karena kebahagiaan itu pula kita bisa benar-benar merasakan dan mensyukuri bahwa yang diberikan olehNya itu indah. Tapi, di era seperti zaman sekarang ini, banyak banget orang yang suka usik dengan kebahagiaan orang lain. Kenapa? Mungkin sebagian dari kita pernah melakukan hal yang 'aneh'. Dalam hal apa pun itu. Seperti berdandan yang aneh, berpenampilan yang aneh, dan bertingkah yang aneh. Tak sedikit orang yang berkomentar tentang 'keanehan' yang kita perbuat. Seperti menggunjing, mengomentari, atau yang lebih parah... menghina.

Pesan dari gue: Jika kalian cinta dengan apa yang membuat kalian berbahagia, maka berbahagialah dengan itu. Kalau ada orang yang berkomentar yang bisa bikin sakit hati dan mumet kepala, mending kalian abaikan aja, anggap aja hidup mereka nggak pernah bahagia."



"Lakukan apa yang ingin kaulakukan, tak peduli mau salah atau benar. Persetan dengan semua orang yang mengusik dan mengatur hidup kita."



"Semua orang punya cara sendiri untuk bahagia, dan ini... caraku."





Sekian postingan kali ini, mohon maaf kalau gue jarang ngeposting di blog. Terkadang gue pengin posting di blog suka lupa mau mosting apa. Hehehe... :D Yaudah, udah dulu yak! Bhaaaaay! :D

Senin, 27 Oktober 2014

Menurutmu?


Cuma waktu yang dapat menjernihkan segalanya. Ya, mungkin kalimat itu yang sangat gue inginkan untuk hidup gue kedepannya. Gue pengin hidup gue kedepannya fine-fine aja. Gue pengin hidup gue kedepannya bakal bahagia. Yaaa... meskipun gue tahu kalo bahagia itu nggak ada di dunia ini. Karena setahu gue, segala hal yang ada di dunia ini tuh bersifat temporer. Kadang saat ini kita bahagia, dan kita mana tahu kalau di menit berikutnya kita bakal merasakan kesedihan. Bahkan, kesedihan itu melebihi kebahagiaan kita saat ini.


Lalu hubungannya sama tulisan gue kali ini apa?

Hmm... Jelas ada, dong... Karena dalam tulisan gue kali ini, gue bakal ngebahas tentang masa-masa (yang menurut gue gak penting untuk disebutkan. entah itu masa sedih, masa bahagia, masa pahit, masa manis, dan masa gitu. eh. emang lo kira ini acara tipi yang ada di NET?)

Oke. Lanjut ke topik..

Kalau misalkan dalam hidup lo selalu dihinggapi dengan permasalahan yang bikin lo pusing setengah mati, apa yang lo lakuin? Menurut insting gue sih, pasti bakal banyak yang jawab: “Kalo gue sih lebih milih nyelesainnya. Gue nggak mau ambil pusing!”

Beda halnya dengan gue. Setiap gue ada masalah, pasti gue lebih milih ngetawain masalah yang menghampiri gue itu. Lho, kok gitu? Nah..., maka dari itu tulisan gue kali ini gue kasih judul ’Menurutmu?’, karena gue mau minta pendapat kepada para pembaca tentang tingkah laku gue dalam menghadapi permasalahan hidup.

Beginilah hal yang gue lakuin ketika gue dapet masalah yang bikin gue pusing setengah mati: Setelah gue dapat masalah, gue langsung tertawa. Setelah tertawa, gue langsung sedih. Seolah-olah yang barusan ngetawain gue itu adalah orang lain, lalu gue dibikin nangis sama orang yang ngetawain gue itu.

Kenapa ya kok bisa gini? Gue sendiri bingung...

.
.
.
.
.



Lagi iseng bin bete sebete-betenya orang bete saat gue bikin tulisan ini. Ya.. daripada gue ngetawain terus nangisin masalah gue, lebih baik gue nulis-nulis gini ya kan? Mangap kalo rada gak nyambung. But, for your information, inilah gue. Kalo kata Young Lexx: “Ini gaya gue, nggak suka ya jangan marah.”

WKWKWKWKWKWKWK

Menurutmu?