Manusia boleh berekspektasi tentang suatu hal, tapi waktulah yang kelak dapat membuktikannya
Apa yang membuatmu bangga akan suatu hal? Sebagian orang ada yang menjawab, "Saya sukses dalam dunia bisnis", dan sebagian lagi menjawab, "Saya berhasil dalam membina percintaan sedari masa sekolah hingga kini kami akhirnya menikah", dan sebagian lainnya menjawab "Gue sukses menjalin kebersamaan sama temen-temen gue, buktinya, dari dulu sampai sekarang gue sama temen-temen gue masih solid".
Terkadang saya pribadi berpikiran bahwa;
"apa yang selama ini kita bangga-banggakan tidak dapat membuat kita merasa senang selalu."
Kamu pasti pernah dihadapkan dengan seorang teman yang baik hati dan tingkah lakunya, pasti di saat itu juga kamu mengekspektasikan bahwa orang tersebut merupakan seseorang yang bisa dijadikan sebagai temanmu. Namun, faktanya di lapangan adalah; banyak orang asing yang kamu anggap teman karena perlakuannya terhadapmu, tapi nyatanya... mereka palsu. YES! They're a fake friend. Ya, karena kejadian ini begitu persis dengan peristiwa apa yang telah saya alami.
Sebagai teman yang baik, saya pribadi ingin memperlakukan teman saya dengan cara sebaik mungkin yang saya bisa. To be honest, saya selalu beranggapan bahwa kepentingan teman lebih berprioritas daripada kepentingan pribadi. No! Bukan saya ingin dijuluki sebagai orang yang tinggi solidaritasnya atau apa, tapi yang jelas; meskipun saya tidak dilabeli sebagai 'orang yang tinggi solidaritas', saya tetap akan berbuat baik sejauh apa yang saya bisa.
Tapi... lagi-lagi entah. Entah apa. Entah karena apa. Entah salah siapa. Entah bagaimana mulanya jika seorang teman yang selama ini kita nilai sebagai teman yang baik seketika berubah layaknya seorang musuh yang siap menikammu dari belakang? Jujur, saya tidak habis pikir dan sangat tidak mengerti dengan tipikal teman yang seperti ini. Apa yang kurang dengan perlakuan saya terhadapnya? Terkadang terbesit dalam perasaan buruk saya tentang perhitungan seberapa baik perlakuan saya terhadapnya, namun, saya tolak itu. "Masa perbuatan baik saja pakai dihitung-hitung, perhitungan sekali jadi orang. Nggak ada manfaatnya juga, kan, berhitung-hitung tentang perbuatan baik kita ke teman? Yang ada justru mengurangkan pahala. Nggak dapat berkah". Saya berpikiran positif.
"Seburuk apapun sikap temanku terhadapku, yang kuceritakan tentangnya ke temanku yang lain adalah yang terbaik."
Ya, kira-kira kutipan itu telah menggambarkannya. Terkadang kita harus berpura-pura kuat, berpura-pura menerima...
...tapi sebenarnya... perasaan kita sakit.
Terkadang juga... tak ada salahnya jika ada orang yang berpikiran bahwa hidup ini tidak adil.
Karena sejatinya, kita tak pernah tahu seberat apa permasalahan yang sedang dipikul seseorang.









